Menanamkan nilai-nilai karakter tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga melalui kebiasaan menjaga kebersihan di sekitarnya. Namun, kenyataannya tingkat disiplin kebersihan di banyak sekolah masih menjadi tantangan besar yang belum sepenuhnya teratasi. Meskipun peraturan sekolah sudah jelas melarang pembuangan sampah sembarangan, masih sering ditemukan sampah berserakan di bawah meja kelas, koridor, hingga area taman. Kurangnya rasa kepemilikan siswa terhadap fasilitas sekolah menjadi faktor utama mengapa menjaga kebersihan lingkungan masih dianggap sebagai beban daripada sebuah kebutuhan bagi kenyamanan bersama.
Masalah rendahnya disiplin kebersihan ini berdampak langsung pada kualitas kesehatan warga sekolah. Lingkungan yang kotor menjadi tempat berkembang biaknya kuman dan serangga pembawa penyakit, yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar. Selain itu, kondisi sekolah yang kumuh menciptakan citra negatif bagi institusi pendidikan dan menurunkan semangat belajar siswa. Kebersihan seharusnya tidak hanya bergantung pada petugas kebersihan sekolah, melainkan harus menjadi tanggung jawab setiap individu yang beraktivitas di dalamnya. Perubahan perilaku membutuhkan konsistensi dan keteladanan dari seluruh warga sekolah.
Kurangnya ketegasan dalam penerapan sanksi sering kali membuat siswa meremehkan pentingnya disiplin kebersihan. Untuk mengatasi hal ini, sekolah perlu menerapkan sistem manajemen lingkungan yang melibatkan partisipasi aktif siswa, seperti kompetisi kebersihan antar kelas atau pembentukan duta kebersihan lingkungan. Dengan memberikan apresiasi bagi kelas yang paling rapi dan bersih, siswa akan merasa lebih termotivasi untuk menjaga area mereka. Disiplin tidak boleh dipaksakan dengan rasa takut, melainkan harus dibangun melalui kesadaran akan pentingnya hidup sehat dan tertata di lingkungan pendidikan.
Selain itu, penyediaan sarana yang memadai sangat menunjang penguatan disiplin kebersihan. Tempat sampah yang terpilah harus tersedia di setiap sudut yang mudah dijangkau, lengkap dengan instruksi yang jelas. Namun, sarana saja tidak cukup tanpa adanya edukasi yang berkelanjutan. Guru harus senantiasa mengintegrasikan nilai-nilai kebersihan dalam setiap kesempatan, menjelaskan kaitan antara kebersihan fisik dengan kejernihan pikiran dalam belajar. Jika pembiasaan ini dilakukan secara masif dan terus-menerus, maka disiplin dalam menjaga kebersihan akan menjadi karakter yang melekat kuat pada diri setiap lulusan sekolah tersebut.
